Turkish (Turkiye)English (United Kingdom)
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Error
  • JHTMLImage::site not found in file.
Kepentingan Dialog Islam-Kristen dalam pikiran Said Nursi

1. Pada abad ke-20, Said Nursi merupakan pemikir yang pertama untuk mementingkan dialog Islam-Kristen

sudah pada tahun 1911

50 tahun sebelum Konsili Vatikan II

yang menarik, pikiran SN muncul pada zaman konflik antara dua golongan itu

Sebagai orang Kristen yang mempelajari karangan Said Nursi, saya menemukan banyak titik pertemuan dengan iman saya kepada Tuhan yang Mahaesa

Seandainya Said Nursi masih hidup hari ini, saya ingin bertemu untuk mengajukan banyak pertanyaan kepadanya, dan belajar dari hikmatnya dan jawabannya.

Dalam ceramah ini saya tidak bisa menjelaskan pikiran Said Nursi dengan panjang-lebar,

Saya hanya mau menyebut pikiran Said Nursi tentang pentingnya dialog Islam-Kristen.

Muslim dan Kristen bersatu dalam mengkritik sivilisasi moderen

Setiap golongan beragama harus menhadapi tantangan² zaman

karena pada setiap saat, manusia selalu bersedia mengikuti keinginannya sendiri

dari pada mengikuti ajaran Tuhan,

yaitu mereka mengganti ajaran Tuhan dengan keinginan² mereka.

Yesus misalnya berkeberatan kepada cenderungan eksklusip antara orang² yahudi

Muhammad membantah kebiasaan orang² arab beribadat kepada berhala dan

perlakuan arab yang tidak adil terhadap orang² miskin, para wanita dan para budak.    

Zaman moderen ini bukan kekecualian,

orang² beriman menemukan tantangan² yang baru.

Peradaban moderen juga harus dikritik.

Bukan semuanya jelek,

ada aspek yang baik dan berguna bagi manusia,

tetapi dapat juga membawa pikiran² yang bertentangan

dengan apa yang kita diajari oleh Tuhan.

Orang modern sering

tidak merasa perlunya Tuhan Allah dalam kehidupan,

tidak merasa pentingnya berdoa, mengucapkan syukur, mencari bantuan dari Tuhan,

apalagi orang² moderen tidak mau minta pedoman hidup dari Tuhan.

Mereka lebih senang mengikuti filsafat dan ideologi mereka sendiri.

Said Nursi melihat bahwa dalam keadaan dunia modern ini,

orang-orang yang percaya kepada Allah

dan ingin melakukan kehendakNya,

harus mengeritik sivilisasi modern bersama,

dari pihak ajaran ilahi.

Pada tahun 1946, ia mengatakan:

“Orang² beriman harus bersatu, bukan saja dengan kawan² yang beragama Islam, tetapi juga dengan orang² kristiani yang bersifat khusuk dan bertakwa. Mereka [orang² islam dan orang² kristiani] harus menolak masalah² yang menimbulkan perselisihan, karena ketidakpercayaan yang mutlak sekarang menyerang [semuanya yang beragama].[1]

Bagi Said Nursi, tidak percaya pada Allah adalah bahaya yang memusuhi kebahagiaan manusia dan kehidupan susila.

Orang yang tidak percaya mencari jalan mereka sendiri di dunia ini,

mereka tidak ingin tahu kehendak Allah bagaimana kita harus hidup

mereka tidak mau menerima ajaran Allah

Orang² Islam, yang mau membenarkan ajaran Allah tentang kehidupan manusia

dan pentingnya menyerahkan diri kepada Allah,

menemukan kawan² yang paling rapat dalam usaha ini

dalam orang² kristiani yang benar,

yang sungguh² mau mengikuti ajaran Yesus,

dan juga mau hidup menurut ajaran Tuhan.

Musuh kaum muslimin bukan kaum kristen,

dan musuh kaum kristen bukan orang Islam

Musuh yang benar adalah “ateisme”

dan orang² Islam dan Kristen harus bekerja sama melawan musuh yang pokok itu.[2]

Kalau islam dan kristen mau berhasil baik dalam kerja sama itu,

mereka harus mengabaikan, setidak-tidaknya untuk waktu sementara,

perselisihan antara dua glongan itu.

Ini tidak berarti bahwa tidak ada perbedaan,

atau perbedaan² yang ada tidak penting.

Bukan, ada perbedaan yang cukup penting antara agama islam dan agama kristen.

Maksud SN, memusatkan semua perhatian pada perbedaan² itu,

orang² islam dan kristen tidak akan berhasil

dalam kewajiban bersama yang sangat penting,

yaitu, menawar kpd dunia moderen

pandangan hidup yang berpusat pada ajaran Tuhan

dan melakukan kehendak Allah menjadi dasar kehidupan moral..

SN bukan orang yang menolak moderenisasi

atau ingin hidup pada masa lampau.

Ia mengaku bahwa “ada banyak hal yang baik dalam peradaban moderen.”[3]

Seringkali aspek² positip itu berasal dari Eropa.

Tetapi menurut SN, aspek² yang baik itu, bukan kepunyaan Eropa,

melainkan muncul dari

“usaha manusia bersama,

shari’a masing² agama,

keperluan yang intrinsik,

terutama, dari revolusi islam yang dilakukan oleh sharia Muhammad.”

Kepada aspek² positip itu, SN tidak berkeberatan

malah bergembira dan bersyukur.

Sikap SN terhadap peradaban moderen mirip dengan sikapnya terhadap Eropa

(apalagi terhadap AS, sebagai penganjur yang paling aktip sekarang.)

Ia tidak membenci segala²nya yang bersifat Eropa

tetapi mengaku bahwa sumbangannya ke dunia moderen ambigu,

harus diteliti dengan baik.

Eropa telah membawa hal-hal yang baik bagi banyak,

tetapi juga telah menimbulkan penderitaan bagi manusia.

Perkembangan² dlm sejarah Eropa telah mempermungkinkan aspek² negatip mengatasi aspek² positip.

1) peradaban Eropa mengasingkan diri dari agama kristen yang benar,

dan mendasarkan kebiasaan pribadi maupun sistem sosial

pada prinsip filsafat yunani-romawi

yang mengutamakan manusia sebagai pusat semesta alam,

dan menyinkir Tuhan Allah ke pinggiran.

Yaitu, peradaban Eropa menganti ajaran kristen

dengan filsafat “Enlightenment”yg tdk menganut agama,

mementingkan orang pribadi, bukan masyarakat

hak² manusia, bukan hak² masyarakat

memperkecil agama ke praktek² privat

yang tidak boleh mempengaruhi kehidupan sosial, politik, ekonomi.

2) Dalam prinsipnya ekonomi, peradaban Eropa tidak adil,

memperbolehkan keadaan tidak seimbang dlm enonomi.[4]

Bisa dikatakan bahwa SN telah melihat masalah² yang kita hadaip sekarang sebagai hasil globalisasi,

suatu kritik post-moderen terhadap peradaban Barat.

Dari pihak orang beriman,

Eropa memperlihatkan dua muka: yang baik, yang jahat,

Kata SN pada tahun 1933-1934: “Eropa berdua. Satu mengikuti ilmu² yang melayani keadilan dan kebaikan dan kegiatan² yang berguna bagi kehidupan masyarakat.  Inilah karena ilham yang diterimanya dari agama kristen. Eropa yang pertama itu saya tidak bicarakan. Saya berbicara tentang Eropa yang kedua, Eropa yang curang, yang kotor, yang lewat filsafat kegelapan menganggap aspek² yang jahat dalakehidupan manusia sebagai kebaikan, dan sekarang mengantar manusia ke perbuatan yang jahat dan tersesat.”[5]

Aspek yang negatip itu mau menghancurkan kaum muslimin maupun kaum kristiani,

mengasingkan mereka dari nilai² rohani dan moral,

dan membikin permusuhan antara dua golongan itu.

Bagi orang² yang memusatkan perhatian pada tuhan Allah

harus melihat dan memperhatikan bahayanya.

“Sangat penting,” kata SN, bahwa orang² berdakwah, orang² kristen yang saleh, maupun para Nurcu, harus hati-hati, karena ‘aliran dari Utara itu’ akan mencari menghentikan persetujuan antara agama islam dan kristen.

Aliran dari Utara merupakan referensi ke komunisme dari rusia dan kapitalisme dari Eropa Bara.

Menarik juga, SN menulis kata² itu pada tahun 1945-1946,

waktu Uni Soviet masuk Eropa Timur.

Menurut SN, peradaban moderen merupakan suatu campuran,

dari berbagai sumber.

Adalah ajaran para nabi yang telah menyumbangkan konsep yang baik,

sumber lain adalah filsafat Eropa yang sering bertentangan dengan ajaran ilahi,

juga ada sumber demonis/syatanis, yang melawan Tuhan dan ajaranNya.

Memberi komentar kepada ayat Al-Qur’an “Ya Ahli Kitab, datanglah ke suata kata bersama antar kita,” SN berkata:

“Peradaban moderen, yang menjadi hasil pikiran seluruh keluarga manusia, apalagi para jinn, telah melawan Al-Qur’an.”[6]

Dalam keadaan ini, kalau Al-Qur’an menganjurkan

orang² islam dan kristen datang ke kata yang sama,

berarti mereka harus sadar

bahwa sebagai golongan yang berdasar pada iman kepada Allah,

mempunyai suatu kewajiban untuk bersaksi ke nilai² ilahi

di tengah peradaban moderen.

Konsep Said Nursi itu jauh sekali dari suatu “bertentangan peradaban,”

yang sering dibicarakan.

Melainkan mereka harus bekerja sama untuk melakukan suatu dialog kritis dengan mereka yang menganjurkan modernitas.